Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kaca Mata

Belajar? Apa Enaknya?

Gambar
Illustration by Kak Ol Sampe kapanpun yang namanya belajar tuh nggak enak. Capek. Tapi... Gimana kalau jaman menuntut kita  untuk selalu belajar hal baru? Tidak bisa dipungkiri aku bukanlah mba Maudy Ayunda yang memiliki hobi belajar.   Jadi tiap kali butuh   belajar, hal yang pertama kali muncul di benakku adalah “akkhh, harus cari banyak referensi nih”, “duh pasti butuh waktu lama”. Kalau dihayati, belajar tuh sebenernya ngga melulu tentang bagaimana hasilnya. Apakah pengetahuan yang akan aku dapat, apa skill yang akan aku kuasai nanti, apakah hasil belajarku akan berguna. Kadang kita hanya tertuju pada titik ‘hasil’ saja, yang mana titik keberhasilan itu sendiri terletak di masa yang akan datang, tapi sering lupa sama proses yang sedang dijalani saat ini. Bahwa belajar bukan hanya soal hasil, tapi juga soal ‘bertahan’, itu bener banget. Nyari referensi, ngumpulin, memilah, membaca dan berlatih, diuji, berulang-ulang. Sungguh luar biasa mereka yang bertahan melakuka...

Hoax Virus, A Pandemic in the Digital Era

Gambar
Afwanda and I interested to discussing a pandemic that as terrible as Covid-19 . So enjoy your reading! Fake news has been discussed everywhere. It started from schools, lectures, offices to house of worship. People were familiar with calling it as hoax. Like a virus, hoaxes always develop, and infect the public. Hoax spread anxiety and panic in the minds of the people. Until now, the hoax is always have a lot of enthusiasts. Some of them consciously produce and consume hoax content. There are also those who are not aware and take part in reproducing hoax content. This article tries to explain some of the reasons that hoax viruses can easily spread and become a pandemic in the society. Entering the third month of 2020, there were 232 cases of hoax news about corona virus.  In early April 2020 the Ministry of Communication and Information of the Republic of Indonesia stated that the spread of hoaxes occurred in various regions of Indonesia. 10 cases of hoax spreading occurr...

Distraksi Pabrik Kebahagiaan–Kisah Si Tukang Scroll Up

Hai! Udah lama banget kita terbenam dengan kesibukan masing-masing. Bener ngga? Kalau ditulisan sebelumnya kamu sempat tersesat, entah ngga sengaja atau menyesatkan diri dengan kasih klik di judul-judul nglantur lainnya, kali ini aku harap kalian sedang dalam kondisi sadar. Oh iya, kali ini dalam rangka menghidupkan kembali ghiroh menulisku, aku pengen berbagi cerita tentang secuplik pengalamanku saat berselanchar media sosial. khususnya instagram. Kenapa instagram? Karena aplikasi ini salah satu yang paling sering kebuka di Hempon, nama ponsel pintarku. Semoga ada yang bisa diambil hikmah, ya! Aku teringat klaim dari salah satu dosen mata kuliah favoritku, jurnalistik online yang mengatakan bahwa instagram adalah pabrik kebahagiaan. Terkekeh aku mendengarnya. Alasannya karena jika diamati, melalui instagram- lah konten-konten aktivitas yang kadar ‘suka’ terlihat lebih besar daripada ‘duka’nya diproduksi. Iya, pabrik. Karena di pabrik ada aktivitas pembuatan, atau penyusunan...

Perak Barat, Kawasan Ekspedisi Penguji Empati

Gambar
Keringat berlinangan bersama matahari yang kian meninggi di jalan raya besar yang penuh sesak truk tronton itu. Perak Barat. Areal yang padat aktifitas ekpedisi itu minim celah untuk sebagian motor untuk melaju. Siang itu memasuki 27 Ramadhan 1439 Hijriyah, sepanjang jalan raya Perak Barat bagaikan lampu merah tiada henti. Sekalipun maju, tak ampai satu meter. Kesabaran sungguh diuji detik itu. Bau menyengat karbon monksida bercampur bau keringat para pekerja kasar, dan tentu saja aroma khas matahari siang yang semakin menstimulus amarah. Di pertigaan jalan dekat pom bensin perak yang berbatasan langsung dengan gapura besar pelabuhan Tanjung Perak, laju lalu lintas padat-lancar. Setidaknya ritme laju lalu lintas yang padat itu konsiten berkat bantuan tukang parkir Rumah Makan Padang yang berbesar hati mennggantikan polantas waktu itu. Ratusan motor lainnya berjubel saling mendahului, ingin segera lepas dari jalur macet itu. Seorang bapak paruh baya dengan kantong besar yang dikaitk...

Berziarah Makam Sunan Ampel, Sebuah Potret Spiritual

Gambar
      Atmosfer spiritual tampak pekat menyelimuti salah satu kawasan wisata religi tertua di Indonesia ini. Makam Sunan Ampel adalah peninggalan salah satu tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam di Indonesia, Maulana Malik Ibrahim. Tidak pernah sepi pengunjung dan peziarah, kawasan religi ini memaksa mataku tertarik atas cuplikan realitas kehidupan para muslim di wilayah bagian timur Jawa.   Kegiatan spiritual tidak terlepas dari orientasi menghimpun pahala dan berkah dari Allah. Tidak hanya menhikuti sholat jamaah di dalam masjid, para pengunjung juga memiliki kesempatan untuk berziarah makam sunan. Duduk bersimpuh mendengungkan pujian dan do’a dengan mengitari sejumlah makam berpagar milik sunan dan kerabatnya, hal itu tidak terlepas dari keinginan luhur para peziarah untuk memperoleh berkah dari kekasih Allah tersebut. Ada yang datang sendiri, ada pula yang terkoordinasi bersama keluarga atau jamaah lainnya. Kusempatkan bertanya kepada salah seorang ibu berg...

Tulisan, Menulis, dan Manusia

Manusia, makhluk istimewa Akal budi, luhur di jiwa Biarkan jemari ini meraihnya Sebuah pena menari di atas gerinda Ia sambil berbicara Lama-lama bersilihlah dunia Setelah sekian lama ngga nulis, jadi kangen ngomong sendiri. Akhirnya blog ini reborn , deh. Saya ingat betul terakhir saya posting apa di blog ini. Tugas penjas orkes beserta curhatan-curhatan khas anak SMP. Saya sempat kehilangan kebermaknaan dari kegiatan menulis. Buat apa sih kita menulis? Haruskah menulis? Saya jadi inget kata guru pembimbing TIK saya waktu SMP. Pak Fauzy. Beliau yang kebetulan ngajarin saya ngeBlog pertama kali. Katanya, setiap orang barangkali ngga selalu bisa mengutarakan apa yang mereka pikirkan atau rasakan melalui komunikasi secara langsung. Justru menulis menjadi lahan bagi mereka yang mau menyalurkan pikiran dan perasaannya. Bahkan melalui tulisan seoseorang bisa menunjukkan siapa dirinya. Seseorang bisa mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, mengubah seseorang hingga men...

Pemuda dan Utopia Masa Depan

Masa depan bangsa itu ada di tangan para pemudanya. Jujur, telinga saya pekak mendengar quote jadul yang kesannya seperti tuntutan itu. Barangkali kalau tidak salah guru-guru saya dulu sering gembar-gembor tentang hal itu di depan kelas. Dalam hati saya nggrundel, “Kok enak? Sejarah kalian yang mbikin, kok malah kami yang tanggungjawab? Emoh, lah!”. Berat rasanya. Begitukah? Kalau boleh sedikit mengkritisi, memangnya dalam konteks masalah yang ada, apa yang bisa dilakukan oleh pemuda hingga para tetua berani mengamanahkannya pada mereka? Barangkali boleh pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab terlebih dahulu agar tidak terkesan utopis dalam mengabstraksikannya. Kamu pemuda? Bisa apa? Sebentar. Jangan dulu berpikir apa yang harus kita lakukan sekarang, ketika kita belum mengetahui apa permasalahan yang sedang terjadi. Kita belum tahu daya apa yang kita miliki. Atau jangan-jangan kita juga belum tahu siapa kita, peran apa yang kita angkuh saat ini. Konyol dan nekad namanya. Saya me...