Postingan

Mitos dan Fakta Jadi Announcer: Kata Alexandria Cempaka Harum, Pekerja Suara Komersil

Gambar
Assalamualaikum! Udah hari ke-tujuh belas Ramadhan aja nih. Masih konsisten kesehatan dan puasanya, kan? Insya Allah ya! 3 Mei 2020 lalu kebetulan saya mengikuti kelas online yang diadakan oleh KimCi Family, Kak Nurrokim dan Kak Cinta Maulida https://cintamaulida.com. Pasangan muda ini telah berderma hati untuk menginisiasi kelas mingguan selama Ramadhan. Dan tahu nggak, kalau kelas online ini tidak berbayar, salut deh.. Sebenernya sejauh saya ikuti update Kak Cinta di instagram, KimCi Class ini merupakan program sosial Kak Cinta dan Kak Rokim selama Ramadhan. Kok ya kebetulan pandemi ini datang. Jadi kerasa banget manfaat positif dan spirit dari KimCi Class, yaitu memupuk keberanian untuk bangkit pasca Pandemi Covid-19 nanti. Walaupun hidup dalam ketidakpastian, tentu semangat buat terus bertumbuh dan berkembang jangan pernah padam dong ya! Semoga berkah selalu buat Kimci Family udah kasih kesempatan buat saya dan teman-teman bertemu orang-orang hebat di setiap minggunya. ...

Belajar Percaya pada Diri Sendiri Melalui Voice Over

Gambar
Pengalaman Internship di CNN Indonesia Biro Surabaya Buat sebagian orang, tampil dan bersuara di hadapan orang banyak itu bukan hal yang mudah. Walaupun jika dibelakang kita merupakan seseorang yang atraktif, kita bisa mendadak jadi patung ketika berada di depan layar, panggung atau kamera. Entah kurang bisa menguasai audiens atau masih kurang percaya diri. Hal ini tentu membutuhkan latihan terus menerus dan jam terbang tinggi bukan. Tapi bagaimana jika fokus saja di balik layar? Kita nggak perlu mengontrol respon audiens secara langsung. Kita pun masih bisa mengontrol emosi dan rasa kepercayaan diri kita melalui alternatif voice over . Betul sekali! Voice over dapat menjadi salah satu alternatif seseorang untuk bisa tetap menyampaikan gagasan, entah berupa puisi, opini, cerita, ataupun berita tanpa harus menatap audiens mereka secara langsung. Seperti halnya penyiar radio atau seorang news dubber. Mereka dapat menyampaikan informasi dengan karakter suara mereka masing-masing s...

Rumahku Sekolahku

Gambar
Selamat hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020! Cukup terasa ya, pandemi Covid-19 masih mengharuskan kita semua untuk tetap dirumah aja hingga saat ini, termasuk dalam hal belajar dan mengembangkan diri. Sebelum bapak presiden menetapkan situasi darurat corona di negara kita, sebetulnya saya sudah cukup terbiasa merasakan bagaimana belajar dirumah itu. Sebagai mahasiswa semester akhir, kebetulan saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama belahan jiwa saya. Skripsi namanya. Menyadari kalau hidup ini bukan hanya soal skripsi, rasa bosan dan kebuntuan pasti melanda. Dengan mengerjakan beberapa kegiatan pengembangan diri di organisasi, dan juga projek bersama dosen dan teman-teman, ini menjadi lahan belajar buat saya. Saat corona datang, situasi ini semakin mengamini saya untuk belajar dirumah saja. Saya pun harus menyulap kamar saya menjadi ruangan sidang dengan hawa yang cukup hangat cenderung panas. Hehehe. Begitu pula dengan kegiatan belajar dan pengembangan diri ...

Hoax Virus, A Pandemic in the Digital Era

Gambar
Afwanda and I interested to discussing a pandemic that as terrible as Covid-19 . So enjoy your reading! Fake news has been discussed everywhere. It started from schools, lectures, offices to house of worship. People were familiar with calling it as hoax. Like a virus, hoaxes always develop, and infect the public. Hoax spread anxiety and panic in the minds of the people. Until now, the hoax is always have a lot of enthusiasts. Some of them consciously produce and consume hoax content. There are also those who are not aware and take part in reproducing hoax content. This article tries to explain some of the reasons that hoax viruses can easily spread and become a pandemic in the society. Entering the third month of 2020, there were 232 cases of hoax news about corona virus.  In early April 2020 the Ministry of Communication and Information of the Republic of Indonesia stated that the spread of hoaxes occurred in various regions of Indonesia. 10 cases of hoax spreading occurr...

RONA DALAM BERTUTUR-Festival Mendongeng Bersama Kak Rona Mentari (Sebuah Review)

Gambar
Melestarikan budaya bertutur menjadi semangat dari perempuan kelahiran Yogyakarta, 23 September 1992 itu. Rona Mentari . Ia dikenal sebagai juru dongeng keliling, sekaligus aktivis storytelling. Pernah belajar di International School of Storytelling (ISOS) dibawah naungan Emerson College di Inggris, dan berkesempatan menerima Beasiswa Unggulan Non Degree dari Kemendikbud untuk belajar disana. Hari itu, Minggu 30 Juni 2019, ia mampir ke kotaku untuk membagikan pengalaman mendongengnya yang berhasil meronakan pipiku. Seminggu sebelumnya Kak Fitria Oktaviani, saudariku, mempromosikan padaku dan sobatku Azhar Nasywa, soal event Festival Mendongeng yang diadakan oleh komunitas Kumpul Dongeng Surabaya , yang kebetulan bertempat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, di Jalan Menur Pumpungan No.32, Surabaya. Mereka yang datang rata-rata berlatarbelakang sebagai guru, ibu rumah tangga, aktivis mendongeng lainnya, dan sebagian kecil mahasiswa seperti aku ini, serta seoran...

Distraksi Pabrik Kebahagiaan–Kisah Si Tukang Scroll Up

Hai! Udah lama banget kita terbenam dengan kesibukan masing-masing. Bener ngga? Kalau ditulisan sebelumnya kamu sempat tersesat, entah ngga sengaja atau menyesatkan diri dengan kasih klik di judul-judul nglantur lainnya, kali ini aku harap kalian sedang dalam kondisi sadar. Oh iya, kali ini dalam rangka menghidupkan kembali ghiroh menulisku, aku pengen berbagi cerita tentang secuplik pengalamanku saat berselanchar media sosial. khususnya instagram. Kenapa instagram? Karena aplikasi ini salah satu yang paling sering kebuka di Hempon, nama ponsel pintarku. Semoga ada yang bisa diambil hikmah, ya! Aku teringat klaim dari salah satu dosen mata kuliah favoritku, jurnalistik online yang mengatakan bahwa instagram adalah pabrik kebahagiaan. Terkekeh aku mendengarnya. Alasannya karena jika diamati, melalui instagram- lah konten-konten aktivitas yang kadar ‘suka’ terlihat lebih besar daripada ‘duka’nya diproduksi. Iya, pabrik. Karena di pabrik ada aktivitas pembuatan, atau penyusunan...

Seberapa Greget Milenial Merencanakan Masa Depan? -Menilik Tantangan Milenial Hadapi Persaingan Kerja

Gambar
Ketersediaan lapangan pekerjaan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah angkatan kerja yang tersedia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, yaitu Februari 2018 menunjukkan bahwa total jumlah angkatan kerja rentang usia 15-60 tahun di Indonesia mencapai 133.939.099 jiwa, baik yang bekerja maupun yang menganggur.  Millenial dengan rentang usia 15-29 tahun di 2018 mencapai 38.006.151 jiwa. Apabila disandingkan dengan jumlah total angkatan kerja, setidaknya milenial harus bersaing merebutkan lapangan pekerjaan dengan kurang lebih 96 juta jiwa lainnya yang notabene merupakan angkatan kerja dengan usia lebih tua.  Tidak hanya berhenti sampai disitu, milenial juga dituntut untuk saling berkompetisi dengan angkatan mereka sendiri. Sudah terlihat bukan, betapa ketat persaingan yang dihadapi generasi milenial. Lantas apa sajakah tantangan yang dihadapi milenial dalam memperjuangkan masa depan mereka di dunia karier?  Seberapa Jauh Milenial Mengetahui Posisi Mereka? ...