Rumahku Sekolahku



Selamat hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020! Cukup terasa ya, pandemi Covid-19 masih mengharuskan kita semua untuk tetap dirumah aja hingga saat ini, termasuk dalam hal belajar dan mengembangkan diri. Sebelum bapak presiden menetapkan situasi darurat corona di negara kita, sebetulnya saya sudah cukup terbiasa merasakan bagaimana belajar dirumah itu.

Sebagai mahasiswa semester akhir, kebetulan saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama belahan jiwa saya. Skripsi namanya. Menyadari kalau hidup ini bukan hanya soal skripsi, rasa bosan dan kebuntuan pasti melanda. Dengan mengerjakan beberapa kegiatan pengembangan diri di organisasi, dan juga projek bersama dosen dan teman-teman, ini menjadi lahan belajar buat saya.

Saat corona datang, situasi ini semakin mengamini saya untuk belajar dirumah saja. Saya pun harus menyulap kamar saya menjadi ruangan sidang dengan hawa yang cukup hangat cenderung panas. Hehehe. Begitu pula dengan kegiatan belajar dan pengembangan diri lainnya, semuanya dimediasi oleh digital.

“Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru”.   -Ki Hajar Dewantara-

Salah satu quote Bapak Pendidikan Nasional tersebut betul-betul relate sama kondisi di masa pandemi ini, sekaligus menjadi hikmah yang bisa kita ambil di situasi seperti ini. Dimanakah tempat yang saat ini paling realistis untuk kita belajar? Tentu saja rumah.

Sebagai kakak pertama dengan dua adik yang masing-masing duduk di kelas 7 dan kelas 11, saya mengempati perubahan gaya belajar mereka. Yang semula belajar dengan seragam rapi di bangku kelas, kini bisa dilaksanakan sebelum mandi diatas bantal dan kasur lengkap dengan gawai beserta earphone dan koneksi internet.

Sayang sekali apabila hal-hal yang  semula bisa diperoleh melalui interaksi langsung, dikaburkan oleh metode belajar yang cukup baru ini. oleh karenanya keluarga sebagai sekolah yang paling realistis saat ini dapat berperan sebagai media pembelajaran danvpengembangan diri insan-insan didalamnya.

Ada beberapa hal yang pengen saya share tentang gimana rumah kita saat ini berfungsi juga sebagai sekolah.

Setiap Anggota Keluarga Merupakan Insan Pendidikan

Kita tentu pernah tahu kalimat yang menyatakan kalau madrasah (sekolah) pertama di dalam hidup seseorang adalah keluarga. Baik yang memberikan pembelajaran maupun peserta belajar, tentu orang-orang didalamnya.

Begitu pula yang terjadi saat ini, setiap anggota keluarga kini dapat menjadi guru sekaligus murid di rumah. Pengalaman ini saya sadari ketika keluarga saya lengkap berkumpul. Ternyata pembelajaran tidak terbatas pada lingkungan akademis yang hanya melihat kemampuan dari perolehan skor atau predikat berupa huruf dan angka saja.

Saya cukup bersyukur karena Mamah dan papa sering membiasakan kami untuk saling mendengarkan, bagaimana cara berkomunikasi yang baik kepada orang lain, bagaimana mengendalikan emosi saat marah, dan juga menyikapi berbagai situasi dan kondisi, termasuk dalam masa pandemi yang serba tidak pasti ini.

Begitu pula Mamah dan Papa, mereka cukup menyadari bahwa orang tua tidak selamanya benar, baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Siapa sih yang tidak pernah bertengkar sama orang tua? Saya pun sering, apalagi sama Mamah. Tetapi ketika kesepakatan untuk sama-sama belajar sudah terbangun, maka komunikasi dan diskusi adalah satu-satunya jalan terbaik.

Dalam suatu kesempatan Mamah pernah meminjam kalimat dari acara televisi, begini katanya “menjadi orang tua adalah pembelajaran seumur hidup, Kak”, dan saya pun tersenyum simpul. Sehingga saya yakin bahwa rumahku juga sekolahku.  

Empati dan Kerjasama sebagai Mata Pelajaran di Rumah

Di sekolah kemampuan akademik dilatih melalui beberapa mata pelajaran seperti Matematika, Sejarah, Sosiologi, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Semakin banyak berlatih kita dapat semakin mahir. Mahir Matematika, mahir Sejarah dan lainnya.

Harapannya hasil latihan tersebut dapat berimplementasi positif bagi siswa di lingkungannya kelak. Begitu pula pembelajaran di rumah, berlatih empati untuk mahir mengempati sesama. Berlatih kerjasama, agar mahir menyelesaikan masalah bersama-sama.

Hampir 3 bulan kita semua dianjurkan untuk stay at home, ternyata cukup menumbuhkan rasa empati satu sama lain antar anggota keluarga. Saya dan kedua adik saya yang biasanya menghabiskan separuh hari kami di sekolah atau di luar rumah, saat ini seolah mata kami dibukakan kembali atas pekerjaan rumah cukup fantastis.

3 bulan adalah waktu yang cukup untuk menjelaskan bagaimana pekerjaan kerumahtanggaan seorang ibu. Seru juga rasanya membicarakan kesadaran dan kepedulian masing-masing siswa di rumah. Ternyata setiap anggota keluarga sebenarnya terketuk untuk mengambil peran berdasarkan kemampuannya masing-masing.

Saya sempat mengikuti diskusi kecil yang dimulai oleh Papa sehabis berbuka. Papa menawarkan pada kami untuk mengambil peran bersih-bersih rumah selama Ramadhan, dengan membebaskan kami memilih jobdesk yang kami suka. Padahal sudah sejak lama, masing-masing kami mendapatkan peran kami dirumah. Lalu buat apa dibicarakan lagi? Jawabannya adalah, sesederhana menjadi mahir matematika. Agar mahir untuk peka, agar mahir untuk peduli, dan agar mahir bertanggung jawab.

Proses pembelajaran juga butuh evaluasi. Tidak masalah jika dalam kesehariannya banyak sekali ketidakidealan. Karena  menurut orang bijak, nyawa dari pendidikan itu adalah proses pembelajaran itu sendiri. Semoga di masa pandemi ini kita tetap bersemangat untuk menghidupkan nyawa pendidikan, walaupun di rumah saja.

Itu tadi cuplikan refleksi saya mengenai peran rumah sebagai sekolah. Semoga dapat diambil hikmahnya! Selamat Hari Pendidikan Nasional Indonesia!

Komentar

  1. Soft skill yang tidak kita dapatkan di sekolah, ternyata bisa didapatkan di rumah yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak betul skali. Rumah jadi tempat pembentukan soft skill paling realistis bagi anak2 dan sluaruh anggota kluarga😊🌿

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RONA DALAM BERTUTUR-Festival Mendongeng Bersama Kak Rona Mentari (Sebuah Review)

Mitos dan Fakta Jadi Announcer: Kata Alexandria Cempaka Harum, Pekerja Suara Komersil

Seberapa Greget Milenial Merencanakan Masa Depan? -Menilik Tantangan Milenial Hadapi Persaingan Kerja